Ludruk

Jombang identik dengan Ludruk. Sebab, menurut sejarahnya, kesenian rakyat ini lahir dari tangan para seniman Jombang sebagai aset kesenian “kota santri”, bernama Wak Rebo. Pada tahun 1920-an saat penjajahan Belanda, seniman yang konon tinggal di Desa Kebun agung, Kecamatan Ploso, Jombang itu berjuang mempertaharrkan hidup dengan menjual jasa sebagai pengamen.
Dengan sedikit kepandaian menari dan mengidung, Wak Rebo ngamen dari rumah ke rumah ke luar masuk desa. Untuk menutup jati dirinya, ia membedaki wajahnya coreng moreng seperti orang gila. Ini terpaksa dilakukan supaya tidak malu dan semata untuk mendapatkan sesuap nasi. Dandanan dan tarian sekenanya itu, ternyata justru sering mengundang tawa. Genik Lakunya pun menarik perhatian penonton.
Padahal, musik yang megiringinya cuma “gamelan garingan”. Yokui, orkestrasi mulut yang dilantunkan di sela kidungnya.
Iwak bandeng numpak kreta … plak … nong . . . plak ….
iwak teri dowo buntute … yo “aman . .. .”Iak . . . nang …plak . . . nang ….
Nek seneng ketok mota kate dirabi gak kuat blanjane … plak … nang … plak . … neng .. . ! dilanjutkan dengan kidungan lain atau gending yang dikuasainya.
Kesenian model Wak Rebo itu, dalam perkembagnannya kemudian oleh Wak Santik, seniman asal Desa Ceweng, Kecamatan Diwek dilengkapi dengan alat musik ken dang. Personilnya pun ditambah dua orang, yakni : Amir dan Pono. Namun dandanannya tetap ala Wak Reba. Setiap ngamen, ketiganya memoles mukanya coreng moreng. Hanya yang satu orang, Pono, mengenakan busana wanita, yang kemudian disebut sebagai “wedokan”. Hadimya kelompok seniman Santik itu, agaknya, membuat tontonan seni jalanan ini menjadi lebih segar dan menciptakan gerak laku kegembiraan dan lebih menarik perhiltian.
Kemudian tarian ini dikenal sebagai kesenian lerok. Dan dalam perjalanannya lalu mengalami beberapa modifikasi. Pendudukng tari ditambah, cerita bervariasi dan dilengkapi seperangkat orkestrasi gamelan. Maka jadilah kesenian baru yang disebut “Ludruk”.
Sumber : Here
Besutan

Besutan adalah kesenian tradisional asli Kabupaten Jombang yang merupakan pengembangan dari Kesenian Lerok dan merupakan cikal bakal Kesenian Ludruk. Kesenian Lerok merupakan kesenian yang bersifat amen. Pelakunya berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain untuk menyuguhkan pertunjukan teater sederhana. Pelakunya semula tunggal yang melakukan monolog dan dalam perkembangannya pelakunya lebih dari satu orang. Lakon yang dibawakan merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari. Dari bermacam-macam lakon yang disuguhkan, ternyata yang menggunakan tokoh Besut paling digemari penonton. Lama kelamaan, karena lebih sering melakonkan Besut, maka keseniannya kemudian disebut Besutan.
Kata besutan berasal dari kata besut. Besut itu sendiri merupakan akronim dari kata beto maksud (membawa pesan). Ada juga yang mengatakan besut berasal dari katabesot (menari). Besut merupakan nama tokoh utama dalam teater Besutan. Tokoh Besut merupakan sosok laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni.
Dalam lakon Besutan, tokoh yang selalu hadir antara lain: Besut, Rusmini, Man Gondo, Sumo Gambar, dan Pembawa Obor.
Busana Besut sangat sederhana. Tubuhnya dibalut kain putih yang melambangkan bersih jiwa dan raganya. Tali lawe melilit di perutnya melambangkan kesatuan yang kuat. Tutup kepalanya merah melambangkan keberanian yang tinggi. Busana Rusmini merupakan busana tradisional Jombang, menggunakan kain jarik, kebaya, dan kerudung lepas. Man Gondo berbusana Jawa Timuran, sedang Sumo Gambar berbusana ala pria Madura
Sumber :Here
Jaran Kepang Dor
Kesenian tradisional Jaran Dor sudah ada di Jombang sejak masa
penjajahan Belanda. Pada tahun 1925 berdirilah grup jaran dor di Desa
Kemambang, Diwek, beranggotakan 14 orang. Saat ini, dari sejumlah itu,
hanya tersisa satu, yaitu Yasmo (usia 106 tahun) warga Desa Jatirejo
Barat.
Jaran dor merupakan kesenian tradisional kudalumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musik jidor yang saat ditabuh berbunyi dor.
Jaran dor merupakan kesenian tradisional kudalumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musik jidor yang saat ditabuh berbunyi dor.
Sumber : Here

Tidak ada komentar:
Posting Komentar